counseling room

Psychology Words of the day

"I" Message

Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.

title

"I" Message

DailyReaders, sering kali kita merasa tidak setuju atau terganggu dengan tingkah laku seseorang, tapi kita sering merasa tidak enak untuk menegurnya. Kebanyakan dari kita takut kalau apa yang kita sampaikan malah akan membuat orang itu tersinggung dan marah, dan akhirnya malah kita membiarkannya. Atau, kalau punya cukup keberanian, Anda akan menegurnya, dengan resiko dianggap egois, menuduh orang sembarangan dan malah menimbulkan pertengkaran. Contoh kasus, misalnya Anda terganggu dengan teman Anda yang bercanda dan tertawa dengan suara keras saat Anda sedang berkonsentrasi mengerjakan tugas. Anda mengatakan, “Kalian tuh berisik banget sih! Tau ga kalau ada orang lagi ngerjain tugas?”. Teman Anda tersebut tersinggung, dan akhirnya Anda bertengkar dengannya. Hal-hal seperti ini dapat diatasi kalau saja Anda tahu bagaimana menggunakan “I” message.
 
What is “I” message ?
 
“I” message atau “I” statement merupakan suatu teknik yang dikembangkan oleh Dr. Thomas Gordon. “I” message merupakan suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif dibandingkan “You” message. “You” message, merupakan kebalikan dari “I” message. Misalnya, teman Anda yang lupa mengembalikan buku yang dipinjamnya, padahal Anda butuh buku tersebut untuk menyelesaikan tugas hari ini. Dengan “You” message, Anda mengatakan “Kamu ini tidak bertanggung jawab banget sih! Sekarang kan jadi saya yang susah !”. Dengan menggunakan “I” message, Anda bisa juga mengatakan, “Aduh, saya bingung nih, soalnya saya butuh buku itu untuk menyiapkan presentasi buat besok. Boleh tidak kalau kamu antarkan buku itu ke rumah saya malam ini ? Jadi saya bisa menyiapkan presentasinya sebelum besok”.
 
Why do I have to use “I” message ?
 
Ada beberapa perbedaan antara “I” message dan “You” message. Banyak orang secara tidak sadar menggunakan “You” message dalam berkomunikasi, yang lebih bersifat menilai dan terkadang “menyerang” si penerima pesan. “You” message menganggap lawan bicara sebagai subjek atau pelaku dari masalah yang sedang dibicarakan tersebut, sedangkan “I” message menujukkan bahwa si pembicara mengalami akibat dari perilaku lawan bicaranya. Saat seseorang diberikan suatu penilaian negatif dengan menggunakan “You” message, ia bisa jadi harus mengatasi interpretasinya terhadap isi pesan tersebut dan juga memikirkan bagaimana ia harus bereaksi terhadap si penyampai pesan. Dengan adanya dua orang yang kini sedang mengalami dua masalah yang berbeda, besar kemungkinan keduanya menjadi semakin bingung dan masalahnya menjadi semakin rumit.
 
How ?
 
Ada lima dimensi pengalaman yang mendasari “I” messages. Kelima dimensi ini membentuk 5 unsur dari “I” message yang dapat disingkat menjadi SEWBE, yaitu:
1.    S = Sensing, apa yang Anda lihat, dengar atau inderai ?
Contoh : “Menurut saya ruangan ini terlalu berisik...”
 
2.    E = Emotion, perasaan seperti apa yang Anda rasakan ?
Contoh : “... saya merasa terganggu dan kesal...”
 
3.    W = Want, apa yang Anda inginkan untuk mendukung atau mengatasi perasaan tersebut ?
Contoh : “... saya ingin suasana yang sedikit lebih tenang untuk
          berkonsentrasi...”
 
4.    B = Behavior, apa tindakan, tingkah laku atau bantuan yang ingin Anda minta ?
Contoh : “... bolehkah saya minta tolong pada untuk Anda mengecilkan
           sedikit volume suara CD player Anda....”
 
5.    E = Effect, apa akibat positif yang akan ditimbulkan dengan tingkah laku atau tindakan tersebut nantinya ?
Contoh : “... supaya saya bisa berkonsentrasi dan menyelesaikan
pekerjaan ini dengan cepat, jadi Anda juga dapat lebih bebas
mendengarkan musik setelah saya selesai.”
 
Semakin banyak dimensi yang kita masukkan ke dalam pernyataan kita, akan semakin spesifik pesan kita, sehingga akan lebih mudah bagi kita untuk mengajak lawan bicara kita untuk merasakan apa yang kita rasakan dan semakin mudah baginya untuk memahami.
 
When can I use “I” message ?
 
“I” message cocok untuk digunakan apabila :
  1. Tingkah laku orang yang akan Anda ajak bicara sangat mengganggu Anda
  2. Saat pemikiran untuk mengajari, menguliahi, memenangkan konflik atau menjadi orang yang paling tahu jawaban untuk orang itu muncul. Anda tidak ingin dianggap menjadi orang yang sok menggurui.
  3. Ketika orang tersebut sepertinya tidak mengerti apa yang sebenarnya Anda sampaikan.
  4. Ketika Anda mempunyai perasaan atau pengalaman yang ingin dibagi dengan orang tersebut. 
 
“I” message mungkin terlihat sedikit tidak natural atau kaku. Akan tetapi jika anda semakin sering menggunakannya, maka anda akan merasa lebih nyaman dalam mengekspresikan perasaan anda. Meskipun “You” message mempunyai kekurangan-kekurangan, bukan berarti “You” message tidak bisa dipakai. “You” message apabila dipakai secara tepat dapat membantu si penerima pesan. Misalnya ketika Anda akan memuji salah seorang teman Anda yang baru memenangkan turnamen billiard, Anda akan mengatakan, “Wah, Kamu itu hebat banget yah. Ga sia-sia belajar main billiard tiap hari”. Perkataan semacam ini memang mengandung penilaian, tapi penilaian yang positif dan tidak bersifat menyerang. Penggunaan “You” message seperti ini dapat membantu seseeorang untuk mengembangkan konsep dirinya yang lebih baik.
 
Yuk, mari kita mulai menggunakan “I” message.
 
Sumber gambar : http://gicoaches.com/wp-content/uploads/2011/02/Megaphone-Cartoon.png
 
 
 
 
 
Feb 10, 2012 - 0 comment - 244 Views | Prime Articles | By Arya Verdi Ramadhani
Facebook ShareTwitter Share
Response This Post

Terdapat kesalahan dalam pengisian form komentar, untuk lebih jelas lihat di bawah.

Captcha image