counseling room

Psychology Words of the day

"I" Message

Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.

title

Suatu Hari di Antrian Taksi

Pukul 16.05. Saya baru saja tiba di bandara Soekarno Hatta setelah menikmati penerbangan 30 menit Lampung-Jakarta. Lelah dengan perjalanan yang baru saja dilalui, pikiran saya hanya tertuju ke satu hal : TIDUR!. Didorong oleh keinginan untuk segera beristirahat, saya melangkahkan kaki dengan cepat menuju tempat pemberhentian taksi. Dari sekian banyak jenis taksi yang ada di bandara,  my top of mind tidak pernah berubah, selalu gunakan jasa taksi berlambang burung biru. Di pandangan saya taksi burung biru adalah perusahaan jasa yang memiliki service yang baik dan memberikan kenyamanan bagi pelanggannya- hal yang mungkin amat jarang kita temui di Jakarta. Ternyata bukan saya sendiri yang memiliki pandangan tersebut. Terbukti dengan mengularnya antrian untuk dapat  dilayani oleh taksi tersebut. Di bandara, untuk bisa mendapatkan sebuah taksi, calon pelanggan diharuskan mengantri dengan cara mengambil nomor antrian yang telah disediakan. Well, fair enough, mengingat budaya antri belum terinternalisasi dengan baik di masyarakat kita. Singkat cerita, saya tiba di tempat antrian taksi- sebut saja tempat antrian A -dan disinilah cerita ini dimulai.
 
Saya mendapatkan nomor antrian 17. Hm, ya lumayan lah, ga terlalu panjang, gumam saya menghibur diri. Untuk sedikit mengurangi rasa lelah, saya menuju tempat duduk yang disediakan. Di tengah menunggu betapa terkejutnya saya. Betapa tidak, salah satu petugas yang bekerja sebagai pembagi antrian dengan lantang berteriak “No 80!”. "Hah, 80?? Gak salah?" Sambil mengucek mata saya mencek kembali nomor antrian. Bener kok no.17. Lho kok skrg udah no 80 aja?. Jangan-jangan tadi saya sempat tertidur sampai terlewat begitu banyak. Ah, tapi kayanya enggak deh. Daripada dikuasai rasa penasaran, saya bangkit berdiri dan menghampiri petugas tersebut, "Mas, no 80? Tidak salah? kok saya no.17?". Dengan tersenyum petugas tersebut menjawab "Tidak salah kok pak. Ini dihabiskan dulu sampai seratus, lalu baru kembali ke no.1". What??Oalah Berarti saya sama aja di nomor antrian 37 donk.
 
Merasa tidak ada pilihan lain, dengan langkah gontai saya kembali ke tempat duduk. 10 menit saya menunggu, pikiran saya berputar kembali. Benarkah tidak ada pilihan lain? Bukankah dalam kehidupan selalu ada pilihan? Yang membedakan hanyalah keberanian kita untuk mengambil resiko dalam memilih. Saya sebenarnya memiliki dugaan bahwa beberapa meter dari tempat saya mengantri, terdapat lagi antrian taksi yang sama, namun di terminal berbeda. Saya bisa saja memilih untuk meninggalkan antrian, dan berjalan kaki menuju terminal berikutnya. Namun, saya ragu. Berbagai pertimbangan mampir di kepala. Belum tentu di terminal sebelah terdapat antrian taksi burung biru. Bilapun ada, mana tahu panjang antriannya sama atau bahkan melebihi antrian saya saat ini. Sejenak saya terdiam, kemudian melirik jam yang melingkar di tangan. Waktu telah menunjukan pukul 17.00. Oleh karena satu dan lain hal, saya harus tiba di rumah sebelum waktu maghrib tiba. Bila saya terus menunggu disini, bisa-bisa saya terlambat. Setelah menimbang berbagai kemungkinan, dan berusaha keras menghilangkan keraguan, akhirnya saya bangkit berdiri. Saya kantongi nomor antrian saya, mengambil tas, lalu memantapkan diri untuk berjalan ke terminal berikutnya.
 
Dugaan saya benar! Tidak berapa jauh dari tempat saya tadi, ada tempat antrian lain. Sebut saja tempat antrian B. Namun, hati ini masih harap-harap cemas. Khawatir bahwa antriannya jauh lebih banyak dibandingkan tempat sebelumnya. Dengan sedikit ragu saya menghampiri petugas. Dengan cekatan petugas itu memberikan nomor antrian kepada saya. Saya melirik. Hm, saya dapat nomor 5. Oke, nomor awal, tapi pertanyaannya :”Sekarang sampai nomor berapa? Jangan-jangan sama seperti tempat sebelumnya, berakhir di 100 baru kembali ke no.1”. Di tengah lamunan saya, terdengar petugas berteriak lantang, “Antrian no. 3!”. Wow, ternyata sudah no. 3. Berarti saya hanya tinggal menunggu untuk satu nomor antrian lagi. Selain itu, tidak seperti di tempat antrian A, di tempat ini taksi yang datang untuk mengambil penumpang jauh lebih cepat. Dapat dimaklumi, karena tempat antrian B ini terletak sebelum tempat antrian A. Sehingga taksi yang datang dari pintu terminal lebih sering ke tempat antrian B karena letaknya yang lebih dekat. Akhir kata, tanpa menunggu lama saya mendapatkan taksi, serta dapat tiba di rumah tepat sebelum waktu maghrib.
 
Dari cerita sederhana di atas tergambarkan bahwa saat itu saya dihadapi suatu situasi sulit yang “memaksa” saya untuk memilih antara duduk nyaman di antrian A, dengan satu resiko, yaitu terlambat tiba di rumah. Atau, berjalan ke antrian b dengan beberapa resiko. Selain tempat antrian yang belum pasti ada (karena ketidaktahuan saya), serta bisa saja antriannya sama atau bahkan lebih banyak seperti antrian A. Seperti yang diketahui, saya memilih opsi kedua. Hal terpenting saat saya mengambil keputusan tersebut adalah saya telah siap dengan resikonya. Artinya, bila yang saya khawatirkan benar-benar terjadi, maka saya telah siap, sehingga meminimalisir rasa kecewa. DailyReaders, dari pengalaman sederhana saya di atas memberikan insight yang tidak sederhana. Orang bijak sering berkata “Life is a Matter of Choice”. Hidup itu pilihan, dan sebagai manusia dewasa kita diberikan kebebasan untuk memilih. Tentu dengan mempertimbangkan segala resiko. Apabila kita salah perhitungan, maka tentu juga harus siap dalam menghadapi resikonya.
 
Demikian pula di tempat kerja. Setiap hari kita harus menghadapi dengan yang namanya “milih memilih, mutus memutuskan”-atau bahasa profesionalnya, decision making. Kadang kita tidak berani memilih, karena belum bisa “melihat” resiko yang dinanti, atau mungkin sudah bisa “melihat”,namun takut untuk menghadapi resikonya. Ilustrasi yang pernah saya alami adalah kisah seorang kawan saat memutuskan untuk mengundurkan diri  dari tempat Ia bekerja- yang sebenarnya sangat Ia cintai-karena berbeda pendapat dengan atasan atas dasar prinsip yang Ia pegang teguh.  Sempat dirinya merasa gagal dan tidak berharga. Namun, kemudian Ia tersadar bahwa hal tersebut telah terjadi. Ia mulai bangkit dan memikirkan resiko-resiko yang mungkin akan dihadapi. Hal utama tentu saja adalah kehilangan penghasilan. Apalagi saat itu dirinya dalam persiapan untuk menikah. Hal lain adalah akan melekat dengan eratnya status “pengangguran” . Tentu hal tersebut kurang enak didengar, apalagi untuk calon mertua. Saat itu, setelah menimbang baik dan buruk, serta mendalami resiko-resiko yang mungkin terjadi, dengan gagah berani Ia hadapi segala resiko tersebut. Akhir cerita, kisahnya berakhir bahagia. Meski sempat hampir tiga bulan “menganggur”, dan bertahan hidup dengan sisa-sisa tabungan yang ada, pada akhirnya Ia diterima di suatu perusahaan besar dan ternama. Kawan saya tersebut, bisa saja memilih untuk terus membiarkan dirinya dengan perasaan sebagai orang gagal dan tidak berguna. Ia bisa saja memilih untuk melakukan hal-hal buruk untuk melupakan masalahnya, seperti bermabuk-mabukan. Ya, Ia bisa memilih. Namun, Ia memilih untuk bangkit. Ia memilih untuk mempersiapkan diri dan terus berpikir optimis untuk dapat menghadapi resikonya. Apabila seseorang telah mempersiapkan diri sebaik mungkin, serta selalu memiliki rasa optimis, maka otomatis perilaku dan tubuh kita akan mengikuti. Secara otomatis, tubuh ini akan senantiasa berusaha keras, demi mendapatkan jalan keluar terbaik dari masalah yang dihadapi. DailyReaders, resiko dimanapun selalu ada dalam pengambilan keputusan. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menghadapi segala resiko yang mengikuti keputusan tersebut. Selain itu, persiapkan diri bila anda gagal. Saat anda telah siap menghadapi kegagalan, maka rasa kecewa dapat anda minimalisir. Ingat, kekecewaan muncul karena adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. Semakin besar jaraknya, maka semakin besar pula rasa kecewa yang muncul. Tetaplah menjadi orang yang optimis, maka niscaya keberhasilan akan mengikuti anda.
 
Sumber gambar : http://newshours.net/wp-content/uploads/2011/06/taxi.jpg
 
 
Sep 13, 2011 - 0 comment - 214 Views | Other Articles | By Arya Verdi Ramadhani
Facebook ShareTwitter Share
Response This Post

Terdapat kesalahan dalam pengisian form komentar, untuk lebih jelas lihat di bawah.

Captcha image