Psychology Words of the day
"I" Message
Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.
Perempuan Boleh Marah?
Seorang kawan bercerita kepada saya. Istrinya sekarang ini mudah sekali marah. Hal kecil, bila dirasa tidak sesuai dengan keinginannya, langsung bisa menyulut amarahnya. Namun yang aneh, dia hanya mengumbar rasa marah ketika sedang berdua dengan suaminya. Bila sedang berhadapan dengan orang lain, seperti teman dan keluarga, dia bisa menjadi orang yang sangat sabar. DailyReaders, bila berbicara tentang marah, maka sama saja kita sedang berbicara tentang emosi. Salah satu karakteristik yang menunjukkan bahwa kita adalah manusia normal adalah adanya kemampuan untuk mengekspresikan, menerima, dan merasakan emosi. Untuk dikategorikan normal, tentu saja, emosi-emosi tersebut harus ditunjukkan dalam situasi dan kondisi yang sesuai. Sebenarnya bagaimanakan emosi tersebut "terbentuk" dan faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh?. Kembali pada kasus teman saya tadi, artikel ini akan memfokuskan kepada emosi marah. Kenapa? Tidak lain, karena marah menjadi salah satu emosi yang paling sulit sekali untuk dikontrol, meskipun norma, budaya, dan agama telah mengajarkan kita untuk tidak mengumbar emosi tersebut. Nyatanya, "marah" masih saja menjadi salah satu emosi "populer" di lingkungan kita. Lihat saja betapa mudahnya masyarakat kita dewasa ini untuk mengumbar marah, misalnya terjadinya kerusuhan massal atau tawuran hanya karena hal-hal sepele. Lebih dalam lagi, saya ingin mengajak DailyTweeps untuk sama-sama menjawab, mengapa perempuan dianggap lebih tidak pantas untuk mengumbar emosi marah dibandingkan lelaki?
MARAH
Marah, termasuk ke dalam 8 emosi dasar, yaitu takut, marah, bahagia, menarik (interest), jijik, terkejut (surprise), malu, terhina (contempt), distress, dan guilt. Sedangkan ahli lain mengatakan bahwa terdapat 5 emosi dasar, takut, marah, sedih, bahagia, dan cinta. Melalui penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa marah merupakan salah satu dari beberapa emosi dasar. Emosi marah ini dapat ditimbulkan karena adanya penghinaan terhadap diri sendiri atau terhadap hal-hal yang dimiliki oleh diri, seperti keluarga, teman, dan lain sebagainya. Namun, keadaan yang dianggap sebagai penghinaan tidak selalu merupakan kejadian yang dialami sendiri oleh individu. Bisa saja karena seseorang melihat atau mendengar sesuatu terjadi pada orang lain yang dipersepsikan sebagai penghinaan maka timbul emosi marah. Persepsi terhadap suatu keadaan sebagai penghinaan atau bukan tergantung pada beberapa hal, yaitu orang lain yang terlibat dalam peristiwa tersebut dan perasaan aman akan identitas diri. Selain penghinaan, ada berbagai hal yang dapat merangsang timbulnya emosi marah, diantaranya gangguan terhadap aktivitas atau pencapaian tujuan. Selain itu, marah juga dapat ditimbulkan oleh ancaman fisik dan tingkah laku atau perkataan orang lain yang menyakiti secara psikologis.
Perempuan dan Marah
Dalam masyarakat, perempuan mendapat peran yang bersifat ekspresif, yaitu peran yang berhubungan dengan pembentukan dan pemeliharaan hubungan dengan orang lain. Perempuan dianggap memiliki sifat-sifat feminin, yang sebagian di antaranya adalah inkompeten, submisif, tergantung, dan ragu-ragu/malu-malu. Dalam pembuatan Bem Sex-Role Inventory (dalam Baron & Byrne, 2000), partisipan penelitian menyebutkan lebih dari 400 sifat yang menurut mereka sesuai (socially desirable) masing-masing bagi perempuan dan laki-laki. Di antara 20 karakter perempuan tersebut terdapat karakter-karakter seperti “tidak menggunakan kata-kata kasar”, “berbicara dengan halus”, “lembut”, “simpatik”, dan “penuh pengertian”. Dengan karakter demikian yang dianggap sesuai bagi perempuan di masyarakat, sangat mungkin bahwa perempuan mengalami kesulitan dalam mengekspresikan kemarahannya. Kebanyakan perempuan takut mengekspresikan kemarahan mereka secara efektif dan langsung. Ekspresi kemarahan yang terbuka dan langsung membuat seorang perempuan terlihat bertingkah laku tidak pantas bagi perempuan terhormat, tidak feminin, tidak keibuan, dan tidak menarik secara seksual.
Setujukah anda, wahai Ladies? 

sumber gambar : http://2.bp.blogspot.com/_6JMTZWaiCXQ/TQCb_pGRRrI/AAAAAAAAAfo/mULjh4oz8-c/s1600/angry_woman_c.jpg
Response This Post
Terdapat kesalahan dalam pengisian form komentar, untuk lebih jelas lihat di bawah.

