Psychology Words of the day
"I" Message
Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.
Stres, Dapatkah Diatasi?
Dalam menjalani keseharian, stres itu sudah pasti menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan. Baik dari hal-hal kecil, hingga ke yang lebih besar. Bisa bayangkan, bila DailyReaders mengalami satu stres saja dalam satu hari (misalnya khawatir datang terlambat ke tempat tujuan), dan kalikan jumlah hari dalam sebulan maka berapa banyak jumlah stres yang akan DailyReaders alami? Itu baru satu sumber stres saja, belum hal-hal lainnya yang juga dapat memicu terjadinya stres. Seringkali, saking sudah terbiasanya, kita tidak lagi memaknainya sebagai sumber stres.
Sebelum membahas lebih jauh, mari kita kembali dulu ke pemahaman awal tentang stres secara kajian ilmiah. Menurut pakar, stres itu dapat didefinisikan dalam dua pengertian. Pertama, stres sebagai suatu keadaan stres (tertekan), dan kedua stres sebagai stresor atau pemicu. Contohnya ya seperti yang di atas: takut terlambat, tugas atau pekerjaan yang belum selesai meski sedah lewat deadline, dan lain sebagainya. Berikutnya, stres juga bisa dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu eustress dan distress. Eustress adalah stres yang memicu individu untuk dapat bekerja lebih optimal atau maksimal, sedangkan distress adalah suatu stres yang berkebalikan dari eustress karena membuat individu menjadi lebih tidak produktif, dan bisa berakhir dengan depresi.
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca berita di jejaring sosial Twitter bahwa ada mahasiswi Universitas Petra yang (maaf) tidak mengenakan pakaian di tengah keramaian kampus. Ditengarai, ia mengalami stress hebat sehingga nekat melakukan hal tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ia stres karena pasangan, ada yang bilang karena masalah akademik, ada juga yang mengatakan bahwa permasalahan keluarga pemicunya. Bisa juga mungkin karena kombinasi ketiganya? Berkaca dari kasus tersebut, terlepas dari apa penyebabnya, ada baiknya kita juga merefleksikan diri sendiri. Apakah stres yang saya miliki? Apakah stres saya sudah cukup dapat diatasi, atau sebetulnya masih saya abaikan dan ternyata menumpuk?
Setiap manusia, dalam berbagai aktifitasnya, harus mampu mengenali apa-apa saja yang menjadi sumber stres. Contohnya, mahasiswa dengan masalah manajemen waktu atau karyawan dengan masalah pekerjaan yang menumpuk. Lalu bagaimana mengenali sumber stres? Hal paling mudah memang membuat daftar kegiatan harian, kemudian dapat dilanjutkan dengan merinci hal-hal yang dapat memicu stres di dalam kegiatan tersebut. Kita bisa membuat kategori sumbernya seperti: pekerjaan, gaya hidup, kondisi fisik, hubungan dalam keluarga, lingkungan sosial, penilaian diri yang rendah, atau karena faktor lingkungan. Hal berikutnya yang cukup mudah adalah melalui bertanya kepada keluarga, teman sekolah, kuliah, dan rekan kerja. Atau siapa pun orangnya yang anda habiskan waktu keseharian sebagian besar dengannya. Tanyakan pendapat mereka mengenai hal-hal yang biasanya dapat memunculkan stres pada diri kita. Setelah membuat daftar, kemudian telaah lagi satu demi satu sumber stres tersebut. Apakah sudah diatasi dengan baik?.
Nah, tentu DailyReaders penasaran bukan dengan cara-cara yang dapat dilakukan untuk dapat mengatasi stres secara efektif. Cara mengatasi stres, atau yang biasa disebut coping, ada beberapa jenis, yaitu problem focused, dan emotional focused. Di Indonesia, pakar psikologi menambahnya dengan spiritual focused sebagai cabang dari emotional focused. Pada problem focused, individu cenderung untuk langsung mengatasi sumber stres dengan menelaah masalah utamanya. Sementara pada emotional focused, individu lebih banyak melakukan regulasi emosi akibat stres nya. Misalnya, setelah kesal dimarahi atasan, X memilih untuk keluar dari ruangan kantornya dan berjalan-jalan di taman, atau karena bertengkar dengan pacar, Y pergi menonton bioskop sendirian. Keduanya bertujuan untuk menenangkan diri setelah mendapatkan masalah yang tidak menyenangkan. Emotional focused tidaklah salah dalam mengatasi stres, namun tentunya mengatasi sumber masalah secara langsung, atau problem focused, akan jauh lebih menyelesaikan masalah sehingga stres bisa segera berakhir.
Banyak hal sederhana yang kita dapat lakukan untuk mengatasi stres dengan problem focused. Antara lain, membuat perencanaan target, beserta target-target kecil yang memerantarainya, sehingga kita tidak terpaku pada keberhasilan yang besar dan mengabaikan keberhasilan-keberhasilan perantara yang lebih kecil stress. Dengan memaknai keberhasilan yang memerantarai tersebut kita bisa meningkatkan semangat untuk mencapai target berikutnya stress. Hal ini sebetulnya seperti prinsip “mencicil”. Beban kita (yang mungkin menjadi sumber stres) bisa berkurang karena target yang dicapai juga “dicicil”. Selain itu, kita juga sebaiknya selalu punya rencana cadangan (plan B) untuk setiap target dan perencanaan yang kita susun. Plan B ini berfungsi baik sebagai “pintu darurat” kita ketika strategi utama gagal. Dengan demikian, ada persiapan diri untuk menghadapi kegagalan sehingga stres yang mungkin terjadi tidak terlalu besar.
Saran terakhir yang dapat kita lakukan bila kita mengetahui bahwa kita sedang stres adalah mendatangi profesional dalam bidang psikologi dan konseling stress Tidak diperkenankan untuk merasa malu bila kita punya inisiatif datang ke psikolog dan konsultasi stres. Justru kita lebih sehat karena mau digali seputar hal-hal dimana kita mungkin akan mengalami stres dan apakah kita memiliki resource (sumberdaya) untuk mengatasinya. Sampaikanlah informasi yang DailyReaders dapatkan dari artikel ini pada orang-orang terdekat kita, agar kita tetap produktif dan bisa mengelola stres dengan baik J
*Sumber ada pada penulis
(picture was taken from http://bit.ly/lAAnVJhttp://bit.ly/lAAnVJ )
Adhityawarman M, M.Psi
Pria yang akrab dipanggil Iman ini (kataya bukan diambil dari "man" nya AdityawarMAN lho) menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tidak selang berapa lama, beliau meneruskan pendidikan dengan mengambil Magister Psikologi Klinis Dewasa di Universitas yang sama.Saat ini, ia mendedikasikan dirinya sebagai staf pengajar Psikologi Klinis Dewasa di almamaternya tersebut. Saat ini Iman telah menikah dengan seorang psikolog pula dan dikaruniai satu orang anak.
Pria yang akrab dipanggil Iman ini (kataya bukan diambil dari "man" nya AdityawarMAN lho) menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tidak selang berapa lama, beliau meneruskan pendidikan dengan mengambil Magister Psikologi Klinis Dewasa di Universitas yang sama.Saat ini, ia mendedikasikan dirinya sebagai staf pengajar Psikologi Klinis Dewasa di almamaternya tersebut. Saat ini Iman telah menikah dengan seorang psikolog pula dan dikaruniai satu orang anak.
Response This Post
Terdapat kesalahan dalam pengisian form komentar, untuk lebih jelas lihat di bawah.

