Psychology Words of the day
"I" Message
Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.
Mari Mengenal Lebih Jauh Baby Blues
Saat ada seseorang yang kita kenal baru saja melahirkan dan mengalami perubahan emosi, seringkali terucap bahwa orang tersebut mengalami baby blues. Apa sih itu sebenarnya?. Baby blues adalah kondisi depresi ringan yg dialami oleh perempuan pasca persalinan, biasanya terjadi selama 14 hari pasca persalinan. Sebenarnya baby blues normal saja terjadi namun tidak bisa dianggap enteng karena gejala yang muncul membuat ibu merasa tidak nyaman untuk mengurus bayi yang baru lahir. Gejala baby blues yang sering muncul antara lain seperti sering menangis atau marah tanpa sebab, sulit tidur, kurang nafsu makan, merasa tidak mampu untuk mengurus bayi, dan munculnya perasaan bersalah.
Baby blues disebut normal terjadi pasca melahirkan karena adanya faktor-faktor tertentu, antara lain faktor hormonal, fisik, psikologis dan sosial. Berikut ini adalah contoh dari faktor-faktor tersebut :
- Hormon
Penurunan drastis hormon saat hamil, diganti dgn hormon untuk menyusui, membuat keletihan fisik pada ibu dan dapat memicu depresi.
- Fisik
Kelelahan dan rasa sakit pasca persalinan, serta penyesuaian diri dengan ritme mengasuh bayi membuat ibu mudah lelah.
- Psikologis
Mengenai faktor psikologis ada beberapa hal yang dapat disebutkan sebagai contoh, antara lain :
- Tanggung jawab baru yang kebanyakan baru disadari setelah keluar dari Rumah
- Kurang persiapan mental dalam membagi perhatian untuk bayi dan suami
- Merasa kurang diperhatikan, terutama oleh suami, karena semua perhatian tertuju pada bayi. Padahal di sisi lain, rasa sakit dan lelah pasca melahirkan membuat ibu juga membutuhkan perhatian
- Perubahan bentuk tubuh membuat ibu menjadi tidak percaya diri
- Frustrasi karena merasa tidak bisa mengurus bayi yg akhirnya menimbulkan kecemasan
- Adanya perasaan tidak mampu menghadapi tanggung jwb baru sbg ibu dlm mengurus
- Serta masalah-masalah lain seperti, masalah dgn mertua, problem dengan si sulung, suami tidak membantu, asi tidak keluar, ketidaksiapan ibu dalam melahirkan bayi, atau pernah trauma melahirkan.
- Sosial.
Kurang mampu untuk menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai seorang ibu.
Apabila seseorang mengalami baby blues maka yang akan terkena dampaknya tidak hanya ia sendiri, namun juga dapat berdampak kepada orang lain. Dampak baby blues pada bayi bisa membuat anak ikut merasakan stres yang dialami oleh ibu, sehingga ia mudah menangis, cenderung rewel, pencemas dan si anak cenderung mudah sakit. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika gangguan emosi yang dirasakan tidak kunjung hilang sehingga memicu terjadinya postpartum depression (depresi). Membiarkan hal tersebut maka dapat mengakibatkan dampak negatif seperti ingin bunuh diri, mencelakai bayi, menarik diri, dan menolak berinteraksi dgn suami. Apabila gejala sudah berlangsung lebih dari 14 hari maka sebaiknya meminta bantuan profesional.
Meskipun normal, namun babyblues bukan hal yang bisa dianggap enteng. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi baby blues, antara lain dengan :
a. Berbagi peran dengan suami
Minta pasangan untuk ikut berperan aktif dalam mengurus bayi, seperti menidurkan, mengganti popok. Selain itu, perhatikan juga kebutuhan istri untuk tetap mendapatkan perhatian setelah melahirkan yang terkadang suka terlupakan dengan kehadiran si kecil.
b. Sesuaikan jadwal tidur dengan bayi
Tidurlah ketika bayi tidur sehingga memiliki waktu untuk beristirahat.
c. Bersikap fleksibel dalam mengurus bayi
Ingin segala sesuatu berjalan sempurna pada awal mengurus bayi hanya akan membuat anda semakin merasa tertekan. Tidak apa melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.
d. Melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki smbil membawa bayi utk berjemur.
e. Bicarakan kecemasan yang dirasakan dengan orang terdekat, terutama pasangan.
f. Hindari makanan manis dan yang mengandung kafein karena bisa berpotensi memperburuk kondisi depresi.
g. Luangkan waktu untuk diri sendiri sekitar 15-30 menit utk melakukan kegiatan yang disukai – me time.
h. Melakukan kegiatan berbagi cerita dengan ibu-ibu baru sehingga mendapatkan rekan untuk berdiskusi sekaligus teman untuk bersosialisasi.
Orang-orang yang berada di sekitar ibu juga dapat membantu untuk meminimalisir terjadinya baby blues, misalnya dengan membantu ibu untuk membuat prioritas pekerjaan dalam mengurus bayi dan mengurus rumah tangga, membantu pekerjaan ibu (seperti memasak atau menyiapkan makanan), memberi kesempatan ibu untuk beristirahat dengan cara bergantian mengasuh anak, berilah pujian dan hargai hal-hal yang dilakukan ibu dalam mengurus bayi, misalnya berhasil mendiamkan bayi yang sedang rewel, bantu ibu untuk mengutarakan kecemasan-kecemasan yg ia rasakan, dan belajar untuk menjadi pendengar yang baik bagi ibu.
Untuk meminimalisir terjadinya baby blues maka seorang (calon) ibu beserta pasangan perlu melakukan beberapa persiapan, antara lain kehamilan yang terencana, persiapan mental, finansial, sosial dari ayah dan ibu, persiapkan pengetahuan dasar calon ayah dan ibu tentang kehamilan, proses melahirkan, sampai dengan merawat si kecil. Jangan lupa pula untuk mendiskusikan pembagian peran antar ayah dan ibu ketika anak lahir sehingga ibu memiiki waktu yang cukup untuk beristirahat. Dapat pula mempertimbangkan untuk memiliki asisten rumah tangga. Semoga dengan melakukan semua hal di atas maka gejala baby blues dapat dihindari.
*Sumber ada pada penulis
(picture was taken from http://bit.ly/mRH8zS)
Wulan Ayu Ramadhani, M.Psi
Wanita muda yang akrab dipanggil Wulan ini menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada tahun 2006. Tidak butuh waktu lama, beliau meneruskan pendidikan dengan mengambil Magister Psikologi Klinis Dewasa di Universitas yang sama pada tahun yang sama. Kegemarannya untuk berdiskusi mengenai ilmu psikologi diterjemahkan dalam bentuk tulisan-tulisan yang singkat dan menark. Nantikan artikel-artikel Wulan selanjutnya :)

