counseling room

Psychology Words of the day

"I" Message

Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.

title

Are you a boy or a girl?

 

 

Dalam satu kesempatan, saya berdiskusi dengan teman-teman mengenai "seorang pria yang hidup di raga yang salah". Sebenarnya awal mula diskusi ini tidak disengaja. Seperti layaknya bila sekumpulan kawan sedang berkumpul, maka jalannya pembicaraan tentu tidak diatur. Makin ngalor ngidul malah makin asik. Di tengah hangatnya pembicaraan, seorang kawan tiba-tiba terdiam sambil memperhatikan seseorang yang berada di meja sebelah. Orang tersebut seorang pria, namun gaya berpakaian dan gestur tubuhnya lebih menyerupai seorang perempuan. Tentu kita seringkali melihat- apalagi jaman sekarang- bahwa ada orang-orang yang dilahirkan sebagai pria, ditandai dengan alat kelamin dan hormon-hormon yang mengikutinya, namun bertingkah laku dan bersifat layaknya seorang  perempuan. Hal tersebut dapat dilihat hal-hal yang kasat mata sampai yang tidak, misal dari cara berpakaian, cara berbicara, dan lain sebagainya. Berawal dari observasi terhadap “orang di meja sebelah” itulah pembicaraan mengenai”pria di raga yang salah” dimulai.

 

Bagi sebagian dari kita – terutama di budaya timur- mungkin fenomena demikian masih dianggap sebagai hal yang aneh, anomali, atau apapun istilah yang menerangkan kata "tidak wajar". Memang sah-sah saja apabila orang menganggap demikian. Akan tetapi, satu hal yang perlu kita ingat, bahwasanya kita tidak bisa (atau tidak boleh) lalu semena-mena menyalahkan orang-orang tersebut, karena pada dasarnya mereka juga mungkin tidak mau menjadi seperti mereka saat ini.
Cobalah berempati terhadap mereka. Bayangkan bahwa anda adalah seorang perempuan, menyukai segala hal yang berhubungan dengan kecantikan, kebersihan atau kelembutan, senang sekali untuk berbelanja, ingin selalu bergosip dengan teman2 "gank" anda, serta menyukai barang-barang seperti tas dan sepatu. Namun, ternyata, saat anda terbangun di pagi hari lalu melepaskan segala pakaian yang melekat di tubuh anda, anda dengan mudah menemukan sebuah penis tergantung di selangkangan anda, kumis yang tumbuh dengan kasar karena belum dicukur, jakun di leher anda, dan bulu dada yang tumbuh dengan cukup lebat.

Apa yang anda rasakan?

Bagaimana ilmu psikologi menjelaskan hal tersebut?

Nah, sesampainya di rumah, saya jadi tertarik untuk membuat tulisan mengenai hal tersebut. Tentu saja dengan pendekatan ilmu psikologi.

 


Gangguan Identitas Gender

Identitas gender, atau kesadaran terhadap diri sendiri sebagai laki-laki atau perempuan, pada dasarnya telah tertanam sejak dini. Mayoritas orang tetap mengetahui dengan pasti akan gendernya pada situasi apapun. Identitas gender berbeda dengan orientasi seksual. Orientasi seksual adalah referensi kita dalam memilih partner seks. Misalnya, seorang laki-laki dapat tertarik pada laki-laki lain (orietasi seksual) tanpa meyakini bahwa dirinya adalah perempuan (identitas gender).
Orang dengan gangguan identitas gender, atau biasa disebut transeksual, merasa bahwa dirinya adalah anggota jenis kelamin yang berlawanan. Orang dengan gangguan identitas gender tidak menyukai pakaian ataupun aktivitas yang biasa dilakukan orang dengan jenis kelaminnya, dan sering memilih untuk melakukan cross-dressing. Transeksual pada umunya mengalami kecemasan atau depresi, yang kemungkinan berkaitan dengan perlakuan negatif yang didapat dari masyarakat.
Gangguan identitas gender biasanya dimulai pada masa kanak-kanak, dan dapat terdeteksi oleh orang tua sejak usia 2 hingga 4 tahun. Gangguan identitas gender lebih banyak terjadi pada laki-laki, dengan perbandingan 6:1


Saat ini, masih belum terdapat jawaban mengenai penyebab munculnya gangguan identitas gender : bawaan atau dibentuk oleh lingkungan? Walaupun terdapat beberapa data tentatif bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh faktor biologis, yaitu hormon, namun data yang tersedia tidak dapat mengatribusikan munculnya transeksualisme hanya kepada hormon. Faktor biologis lain, seperti kelainan kromosom dan struktur otak, juga tidak dapat memberikan penjelasan yang konklusif.
Faktor lain yang dianggap dapat menyebabkan munculnya gangguan identitas seksual adalah faktor sosial dan psikologis. Lingkungan rumah yang memberi reinforcement kepada anak yang melakukan cross-dressing, misalnya, kemungkinan berkontribusi besar terhadap konflik antara anatomi sex anak dan identitas gender yang diperolehnya.

 

Lalu, dapatkah Gangguan Identitas Gender ini disembuhkan?

Ada beberapa jenis terapi yang dapat dilakukan. Salah satunya yang disebut dengan Body Alterations. Pada terapi jenis ini, usaha yang dilakukan adalah mengubah tubuh seseorang agar sesuai dengan identitas gendernya. Untuk melakukan body alterations, seseorang terlebih dahulu diharuskan untuk mengikuti psikoterapi selama 6 hingga 12 bulan, serta menjalani hidup dengan gender yang diinginkan. Perubahan yang dilakukan antara lain bedah kosmetik, elektrolisis untuk membuang rambut di wajah, serta pengkonsumsian hormon perempuan. Sebagian transeksual bertindak lebih jauh dengan melakukan operasi perubahan kelamin. Keuntungan operasi perubahan kelamin telah banyak diperdebatkan selama bertahun-tahun. Di satu sisi, hasil penelitian menyatakan bahwa tidak ada keuntungan sosial yang bisa didapatkan dari operasi tersebut. Namun penelitian lain menyatakan bahwa pada umumnya transeksual tidak menyesal telah menjalani operasi, serta mendapat keuntungan lain seperti kepuasan seksual yang lebih tinggi.

Terapi lain yang dapat dilakukan adalah terapi Pengubahan Identitas Gender. Walaupun sebagian besar transeksual memilih melakukan body alterations sebagai terapi, ada kalanya transeksual memilih untuk melakukan pengubahan identitas gender, agar sesuai dengan tubuhnya. Pada awalnya, identitas gender dianggp mengakar terlalu dalam untuk dapat diubah. Namun dalam beberapa kasus, pengubahan identitas gender melalui behavior therapy dilaporkan sukses.

 

Sebagai penutup artikel ini, saya ingin mengulang sekali lagi hal yang telah saya tuliskan di atas. Apapun alasannya, pada dasarnya kita tidak bisa (atau tidak boleh) dengan semena-mena menyalahkan orang-orang tersebut, karena pada dasarnya mereka juga mungkin tidak mau menjadi seperti mereka saat ini. Cobalah berempati terhadap mereka. 

 

Sumber gambar : http://edu.glogster.com/media/4/12/8/24/12082446.jpg

 

Nov 1, 2011 - 0 comment - 74 Views | Other Articles | By Arya Verdi Ramadhani
Facebook ShareTwitter Share
Response This Post

Terdapat kesalahan dalam pengisian form komentar, untuk lebih jelas lihat di bawah.

Captcha image