Psychology Words of the day
"I" Message
Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.
Agama : Bukan Sekedar Ada dan Tidak Ada
Entah ada angin apa tiba-tiba saya tertarik untuk membahas mengenai agama. Mungkin sedikit terpengaruh berita konflik antara ormas yang mengatasnamakan satu agama tertentu dengan komunitas agama lainnya yang terjadi belum lama ini. Inti permasalahan adalah anggota ormas merasa para umat komunitas agama lainnya tersebut melakukan ibadah tidak pada tempatnya. Diberitakan lebih lanjut, pertikaian yang awalnya hanya berupa demonstrasi berkembang menjadi serangan fisik. Saya pribadi amat menyesalkan kejadian itu serta memunculkan banyak pertanyaan di kepala. Atas dasar apa ormas tersebut berhak menyerang? Siapa yang menjamin bahwa tindakan agresif tersebut dapat dibenarkan? Mengapa masalah tersebut tidak diselesaikan dengan dialog lintas agama?. Saya bukanlah satu-satunya yang mempertanyakan sekaligus menyesalkan kejadian tersebut. Melalui media twitter, ratusan orang memberikan pendapat yang senada dengan saya. Pada intinya para penghuni twitterland menyayangkan kejadian itu dan mempertanyakan masih dijaminkan kebebasan beragama (dan beribadah) di negara tercinta kita ini.
Beragama atau tidak?
Bila bicara kebebasan beragama, memang tidak bisa dipungkiri mayoritas dari kita memeluk agama saat ini karena terberi, alias mengikuti agama orang tua semenjak lahir. Seiring berkembangnya proses berpikir yang semakin logis barulah tidak jarang kita temukan individu-individu yang berpindah agama, sesuai dengan keyakinannya. Negara pun menjamin kebebasan untuk melakukan perpindahan agama tersebut, dengan catatan sesuai undang-undang yang berlaku. Meski demikian, saya masih sering menemukan penilaian negatif dari masyarakat terhadap orang yang berpindah agama. Ada yang menilainya sebagai orang yang ”kurang beragama”, ”kurang beriman”, ”tidak bergama dengan benar”, dan ucapan-ucapan lain yang intinya adalah menilai negatif ”keagamaan” orang tersebut. Well, saya tidak akan menyetujui atau menyanggah pendapat tersebut, karena orang bebas berpendapat bukan. Namun, mulai dari situ saya bertanya-tanya atas dasar apa seseorang bisa menilai orang lain itu ”beragama” atau tidak? Bukankah ”beragama” atau tidak adalah hal yang amat kompleks untuk dapat dinilai? Dalam artikel ini, saya tidak akan membawa DailyReaders ke dalam perdebatan panjang tentang agama, namun lebih untuk memahami dan memandang agama melalui kacamata psikologi, dengan harapan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
Agama dari kacamata psikologi
Salah satu kesimpulan yang saya dapatkan setelah mengubek-ubek referensi mengenai agama adalah beberapa ahli psikologi memandang tidak akan banyak manfaat apabila mendefinisikan agama melalui satu definisi agama yang kaku. Menurut mereka, agama harus dipahami sebagai variabel multidimensi karena agama bukan sekedar ”ada” atau ”tidak ada” dalam diri seseorang, namun merupakan dinamika dari dimensi-dimensi yang membentuknya. Salah satu ahli yang memahami agama sebagai variabel multidimensi tersebut adalah Glock. Ia memperkenalkan suatu konsep yang disebut komitmen religius, yaitu rasa keterikatan terhadap agama yang mencakup dimensi keyakinan, dimensi ritual, dimensi perasaan atau penghayatan, dimensi pengetahuan, dan dimensi konsekuensi atau pengaruhnya terhadap perilaku sehari-hari. Agar DailyReaders lebih mudah memahami konsep komitmen religius berikut akan dijelaskan lebih mendalam mengenai kelima dimensi tersebut:
a. Dimensi Keyakinan (Ideological Involvement)
Dimensi keyakinan, atau disebut juga sebagai doktrin, merupakan dimensi paling mendasar dari agama. Dimensi ini menjelaskan seberapa kuat seseorang memegang keyakinan mengenai ajaran agama yang dianut, sejauh mana orang menerima hal-hal yang teologis di dalam agama mereka, dan seberapa jauh keyakinan tersebut terlihat dalam kehidupan sehari-hari seseorang.
b. Dimensi ritual (ritual involvement)
Dimensi ritual dapat menjelaskan komitmen religius seseorang melalui seperangkat tingkah laku yang diharapkan muncul dari seseorang yang menyatakan keyakinannya pada agama tertentu. Tingkah laku tersebut memang menjadi bagian dari ajaran agama itu sendiri. Dalam agama Islam, shalat, puasa, dan membayar zakat adalah contoh dari tingkah laku tersebut.
c. Dimensi Perasaan (Experience Involvement)
Dimensi ini dapat memberikan penjelasan mengenai dunia mental dan emosional seseorang. Selain itu, dimensi ini juga menjelaskan mengenai keinginan untuk mempercayai suatu agama, perasaaan takut menjadi seseorang yang tidak religius, dan munculnya perasaaan kesejahteraan fisik, psikologis, dan spritual karena keyakinan terhadap agama. Dengan menggunakan dimensi ini, maka kita dapat menguji kebenaran dari keyakinan dan ada atau tidaknya ruh ketuhanan seseorang.
d. Dimensi Pengetahuan (Intellectual Involvement)
Dimensi ini menjelaskan mengenai seberapa jauh informasi yang diketahui seseorang mengenai agama yang diyakininya, seperti sejarah dan latar belakang lahirnya agama tersebut, tanggal-tanggal penting, atau nama-nama tokoh yang berjasa. Dimensi ini juga dapat menjelaskan keterbukaan seseorang dalam menyikapi hal-hal yang bertentangan dengan agamanya.
e. Dimensi Konsekuensi (Consequential Involvement)
Dimensi konsekuensi menjelaskan mengenai tingkah laku seseorang. Berbeda dengan dimensi ritual, dalam dimensi konsekuensi yang dimaksud dengan tingkah laku adalah hal-hal yang dimunculkan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang dimotivasi oleh ajaran agamanya. Dimensi ini merupakan efek dari empat dimensi sebelumnya.
Bukan Sekedar ”Ada” atau ”Tidak Ada”
Penjelasan di atas memberikan pembuktian sekaligus gambaran bahwa agama tidak sesederhana “ada” atau “tidak ada” dalam diri seseorang, melainkan suatu variabel multidimensi yang saling berhubungan. Dengan menggunakan kombinasi dari variabel multidimensi tersebut, maka kita dapat menjelaskan perbedaan serta membuat pemetaan mengenai komitmen religius seseorang.
Perlu diketahui oleh DailyReaders bahwa dimensi-dimensi komitmen religius adalah sesuatu yang independen. Seseorang yang mempunyai kualitas baik dalam satu dimensi belum tentu mempunyai kualitas yang baik pula di dimensi lain. Ada individu yang memegang teguh kepercayaan agama yang diyakininya, menjalankan perintah ajarannya dalam kehidupan sehari-hari namun tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai ajaran agamanya tersebut, atau disebut blind faith. Bagi orang-orang dengan blind faith, pengetahuan mengenai agama mungkin bukanlah hal yang terpenting. Hal utama adalah perasaan percaya yang teguh terhadap agama yang dipeluknya tersebut.
Di lain pihak terdapat individu yang juga meyakini agamanya, mengetahui ajaran-ajarannya, namun tetap melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran tersebut (rendah pada dimensi konsekuensi), atau disebut hypocrit. Hal yang menarik dalam hypocrit ini adalah karena merupakan fenomena yang paling umum terjadi. Bahkan seorang ahli bernama Spilka mengatakan bahwa empat dari lima dimensi yang disebutkan di atas (keyakinan, ritual, perasaan, dan pengetahuan) acapkali berkorelasi secara positif, sementara dimensi konsekuensi cenderung kurang berkorelasi dengan dimensi lainnya. Hal ini menandakan bahwa seorang pemeluk agama yang telah mempunyai keyakinan dan pengetahuan yang baik, menjalankan ritual-ritual keagamaan, dan mempunyai perasaan terhadap agama tersebut, belum tentu akan mengamalkan hal-hal tersebut dalam perilakunya sehari-hari. Dalam agama saya (Islam), ada istilah populer untuk menggambarkan orang seperti itu, ”Islam KTP”. Tentu DailyReaders cukup paham yah arti dan maksudnya J
Jangan langsung menilai!
Membaca penjelasan di atas membuat saya berpikir dua kali sebelum menilai kualitas keagamaan seseorang, di luar agama apapun yang dipeluk. Selain masih belum cukup yakin dengan kualitas keagamaan diri sendiri, saya juga masih memegang teguh keyakinan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang berhak menilai orang lain sebagai ”beragama atau tidak” atau ”beribadah dengan baik atau tidak”. Setidaknya melalui sudut pandang Psikologi, diketahui bahwa harus terlebih dahulu diketahui kualitas masing-masing dimensi komitmen religius dari seseorang sebelum memberikan ”penilaian”. Bila saja semua orang dapat memahami hal tersebut dan menghormati hak kebebasan beragama, niscaya pertikaian seperti yang sebutkan di awal tidak akan terjadi lagi. Kalau kata Goenawan Mohammad via account twitternya @gm_gm ”Ketakutan kita kepada pengaruh ajaran lain adalah ketakutan kita kepada iman kita sendiri” . Hmm, mungkin ada benarnya juga ya.
*Sumber ada pada penulis
Response This Post
Terdapat kesalahan dalam pengisian form komentar, untuk lebih jelas lihat di bawah.

