Psychology Words of the day
"I" Message
Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.
Bukan Sekedar Ikut-ikut Saja
DailyReaders, apakah Anda pernah merasa minder karena tidak mengikuti suatu tren? Tidak? Pertanyaan saya ubah, kenapa Anda memiliki Facebook? Atau Twitter? Mungkin jawaban yang terbesit sejenak di pikiran Anda adalah “yaa masa enggak punya Facebook jaman gini.”
Mengapa Anda mengganti handphone lama Anda dan membeli Blackberry? Atau I-phone? Padahal, handphone Anda sebenarnya masih baik-baik saja, hanya ya mungkin handphone-nya biasa saja (baca: tidak bisa BBM-an). Apakah karena Anda tidak mau ketinggalan dari teman-teman Anda? Apakah Anda merasa minder jika berbeda?
Jika jawaban Anda adalah iya, maka Anda mudah terpengaruh secara sosial. Hal ini bukan hal yang negatif, jika tidak berlebihan. Pengaruh sosial memang terkadang bisa sangat sulit untuk dihindari atau dilawan. Apalagi jika pengaruh sosial ini berubah menjadi tuntutan sosial, jika ingin diterima maka harus mematuhi tuntutan itu. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang ingin diterima sebagai bagian dari suatu kelompok atau masyarakat. Agar diterima, manusia harus bisa mengikuti “norma” yang ada pada masyarakat atau kelompok itu. Jika berhasil menjalani atau mengikuti “norma” tersebut, maka Anda diterima.
Perilaku mengikuti “norma” ini merupakan suatu gejala sosial yang disebut sebagai konformitas atau conformity. Mungkin dalam bahasa sehari-hari, konformitas bisa juga disebut “ikut-ikut aja”. Kita mengikuti suatu tren itu termasuk konformitas. Jika kita memilih baju yang sesuai dengan tren fashion, termasuk konformitas. Kita menonton Piala Dunia, padahal selain Piala Dunia kita tidak pernah suka menonton bola, itu termasuk konformitas. Kita nonton Java Jazz, padahal kita tidak tahu sama sekali tentang Jazz, itu termasuk konformitas. Intinya kita semua pasti pernah melakukan perilaku konformitas sesekali. Konformitas berbeda dengan mematuhi norma. Dalam mematuhi norma, sebuah masyarakat atau kelompok memang meminta Anda untuk mengikuti norma sebagai syarat diterima oleh mereka dan Anda menyetujuinya. Sedangkan konformitas adalah kecenderungan untuk mengikuti suatu norma secara “buta” dan tanpa ada permintaan oleh masyarakat tersebut. Tidak ada yang memaksa Anda untuk mengikuti tren fashion atau mengharuskan Anda nonton Java Jazz. Anda tidak akan mendapatkan sanksi apapun jika Anda tidak menonton Piala Dunia. Tetapi Anda merasa harus. Mengapa? Karena semua orang melakukannya.
Mengapa seseorang melakukan konformitas?
Seperti yang saya sebut diatas, salah satu alasan utama adalah keinginan untuk diterima. Akibatnya, seseorang merasa atau mempersepsikan bahwa ada sebuah tekanan dari sosial untuk mengikuti “norma” tersebut. Padahal jika dipikir-pikir, sebenarnya tidak ada yang memaksa seseorang untuk mengikuti suatu tren. Setiap orang mempersepsikan itu sendiri lalu kemudian hal itu diungkapkan dan pada akhirnya berkembang menjadi suatu norma tidak tertulis. “Punya Facebook dong. Ga asyik banget sih lo!”
Alasan lain adalah karena terkadang kita butuh “norma” tersebut untuk menentukan perilaku kita. Tanpa ada tuntutan sosial, terkadang kita merasa bingung. Bingung mau menyukai apa atau bingung mau membeli yang mana atau bingung harus memiliki sikap apa terhadap suatu fenomena. Oleh karena itu, kita mencari sebuah “norma” dan menjadikannya acuan untuk perilaku kita.
Konformitas tidaklah buruk. Contoh-contoh yang saya disebut diatas, memang tidak ada pengaruh buruknya sama sekali, harmless. Paling berpengaruh ke kantong kita aja, kita ada pengeluaran lebih dari seharusnya. Tetapi, konformitas ini bisa menjadi buruk jika dalam melakukannya kita tidak bersikap kritis. Terkadang tanpa sadar, kita seringkali rela melakukan apa saja untuk diterima oleh suatu kelompok sosial, bahkan jika hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang kita anut. Misalnya, seorang remaja laki-laki yang ingin dianggap keren oleh teman-temannya, merokok dan minum-minuman keras, padahal ia masih sangat dibawah umur. Sejak itu, ia merasa lebih percaya diri di depan teman-temannya. Seorang mahasiswa terlibat demonstrasi di depan gedung DPR, padahal ia sendiri kurang paham isu yang di demonstrasikan. Atau contoh yang lebih sederhana adalah ketika seorang anak memaksa dan menuntut orangtuanya untuk membelikannya sebuah Blackberry, padahal orangtuanya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Semua demi diterima oleh sebuah kelompok.
Selain pengaruh-pengaruh negatif yang jelas seperti contoh-contoh diatas, konformitas juga bisa berpengaruh terhadap identitas diri. Seseorang yang mudah terpengaruh secara sosial memiliki identitas diri yang terdefinisi oleh masyarakat. Artinya, identitas dirinya sangat terpengaruh oleh hal-hal yang sedang tren. Selera musiknya akan berubah, hobi serta minta akan berubah bahkan gaya berbicara dan berpakaian pun akan berubah sesuai tren yang berlaku. Akibatnya, ia sendiri sulit untuk mendefinisikan dirinya.
Untuk menghindari efek negatif dari konformitas, kita bisa melakukan dua hal yaitu mengambil sikap anti-konformitas atau sikap independence. Anti-konformitas adalah sikap melawan norma kelompok yang ada. Ketika setiap orang memakai sepatu Croc karena tren, ia tidak memakainya, bahkan mungkin menyatakan ketidaksukaannya kepada sepatu merk tersebut. Orang dengan sikap ini tidak mau disamakan dengan orang lain. Ia memang sengaja ingin berbeda. Meski bisa terhindar dari efek negatif konformitas, namun sebenarnya sikap ini sama saja dengan konformitas. Mengapa? Sama-sama sangat dipengaruhi oleh norma yang berlaku. Bedanya, respon mereka terhadap norma adalah melawannya. Mereka tanpa bersikap kritis, mengambil sikap melawan norma. Yang penting beda. Dengan kata lain, mereka “being different just for the sake of being different”.
Sikap kedua adalah independence atau mandiri. Sikap atau perilaku ini adalah perilaku yang tidak terpengaruh oleh norma. Jadi mereka dengan sikap ini, berperilaku tertentu tanpa sama sekali dipengaruhi oleh sebuah norma. Mereka mengenakan baju tertentu karena mereka ingin mengenakan baju tersebut, tanpa peduli pakaian tersebut sesuai tren atau tidak. Mereka memiliki pendapat tertentu karena itulah pendapat mereka. Mereka tidak melakukan konformitas, mereka juga tidak melakukan anti-konformitas. Individu yang memiliki sikap ini adalah para individu yang sering dikategorikan sebagai “menjadi diri sendiri”. Mereka lebih mendengarkan diri sendiri ketimbang mendengarkan masyarakat sosial mereka. Mereka adalah individu yang bebas dari perasaan “harus”. Mereka adalah pribadi yang mandiri.
Diantara ketiga sikap diatas, saya pribadi menganjurkan sikap mandiri, namun perlu ditekankan bahwa sikap konformis maupun anti-konformis juga tidak buruk. Justru keduanya bisa sangat positif jika kita menggunakannya dengan tepat dan untuk hal yang positif.. Hal yang penting adalah kita sadar dengan segala pilihan kita. Hindari melakukan konformitas terhadap hal yang negatif.
Namun, jika DailyReaders ingin memiliki sikap yang mandiri maka inilah beberapa tips yang bisa diambil:
· Bersikap kritislah. Pertanyakan setiap kata “harus” yang dilemparkan kepada Anda. Pertanyakan signifikansi norma yang ada terhadap hidup Anda.
· Dengarkanlah diri Anda dan terimalah diri Anda. Pertanyakan apa yang Anda suka, apakah yang Anda minati. Terimalah itu sebagai bagian dari diri Anda. Jangan minder hanya karena Anda memiliki pendapat yang berbeda dengan orang lain. “Orang-orang lain” tidak selalu benar, hanya karena mereka mayoritas. Mayoritas tidak selalu benar.
· Santai aja. Sekali-sekali bersikap cuek itu positif. Kita tidak harus selalu peduli dengan omongan atau pendapat orang lain. Lakukanlah apa yang nyaman untuk Anda.
· Anda tidak harus selalu membuat orang lain senang. Ini adalah misi yang mustahil dilakukan. Jadi untuk apa capek-capek berusaha?
· Ingat, Anda adalah makhluk bebas. Jadi manfaatkanlah kebebasan itu sebaik-baiknya. Tetapi, jangan lupa untuk tetap bertanggung jawab.
*sumber ada pada penulis
Response This Post
Terdapat kesalahan dalam pengisian form komentar, untuk lebih jelas lihat di bawah.

