...and they lived happily ever after.
Cerita-cerita dongeng “Princess” biasanya ditutup dengan kalimat diatas, ‘and they lived happily ever after’. Pada akhir cerita, Sang Putri bertemu dengan Pangeran berkuda putih yang menyelamatkan nyawanya, entah dari naga, apel beracun, atau ibu tiri yang jahat. Setelah petualangan yang seru, Sang Putri dan Pangeran pun menikah lalu hidup bahagia selamanya. Pada prime article yang lalu, Ingin Bahagia? Menikah Yuk!, DailyReaders bisa membaca bahwa hasil penelitian memperlihatkan pernikahan membuat orang lebih bahagia. Ilustrasi Putri dan Pangeran diatas seakan-akan sesuai dengan hasil penelitian tersebut.
Namun, dalam dongeng tidak dijelaskan mengenai penyesuaian Sang Putri terhadap kebiasaan-kebiasaan Pangeran. Ternyata Sang Putri adalah orang yang sangat rapi, menekan tabung pasta gigi dari bawah ke atas. Sementara Pangeran, menekan sesuka hatinya sehingga tabung pasta gigi tak berbentuk. Sang Pangeran ternyata menikmati saat-saat bermain pedang dan berkelana dengan kudanya. Sementara Putri ingin selalu bercengkrama dengan Pangeran. Tidak pula diceritakan bagaimana hubungan Sang Putri dengan mertuanya, bagaimana mereka membagi tugas dan peran rumah tangga, atau bagaimana mereka memecahkan konflik dalam pernikahan.
Pada kenyataannya, pernikahan tidak seindah cerita dari Negeri Dongeng, tidak pula seindah yang dibayangkan oleh pasangan baru. Bahkan, menurut penelitian, sumber penyebab konflik pada pasangan baru menikah ialah kesenjangan antara ekspektansi dan kenyataan, disamping perbedaan individu seperti prinsip hidup, cara hidup dan pola pikir. Pasangan yang baru menikah akan mengalami penyesuaian dalam hal pemenuhan dukungan emosional, penyesuaian seksual, keuangan, pekerjaan, komunikasi, pembagian tugas dan peran, serta penyesuaian diri dengan teman dan keluarga dari pasangan. Tak jarang masa penyesuaian ini menimbulkan rasa kesal pada pasangan. Jika pasangan tidak dapat beradaptasi dengan baik dalam keadaan tersebut, maka dapat memicu perceraian.
Pada kenyataannya, kegagalan mempertahankan pernikahan merupakan masalah yang sering terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Menurut data dari Kementrian Agama RI, terdapat 250 ribu kasus perceraian pada tahun 2009 atau sekitar 10% dari jumlah pernikahan di tahun yang sama, yaitu sebanyak 2,5 juta. Jumlah tersebut meningkat bila dibandingkan data pada tahun 2008 dimana tercatat sekitar 200 ribu perceraian yang terdaftar. Peningkatan angka perceraian ini memperlihatkan bahwa masalah perceraian perlu diberi perhatian khusus.
Lalu bagaimana cara seseorang dapat mempertahankan pernikahan? Apakah ada ‘resep’ untuk membuat pernikahan jadi memuaskan dan tahan lama? Sayangnya, tidak ada resep ajeg untuk hal ini. Namun hasil penelitian menunjukkan ada beberapa faktor yang mendukung kesuksesan pernikahan, yaitu kualitas komunikasi, kemampuan memecahkan masalah secara bersama-sama, perilaku positif, keintiman, kemampuan empati pada pasangan, serta hubungan seksual yang memuaskan. Jadi, jika DailyReaders merasa saat ini pernikahan Anda kurang memuaskan, coba lihat apakah Anda dan pasangan sudah memiliki faktor-faktor diatas.
Faktor-faktor tersebut memang tidak timbul begitu saja, tetapi harus diusahakan oleh kedua belah pihak. Berikut akan dijelaskan beberapa cara praktis untuk meningkatan kualitas komunikasi.
1. Jadilah pendengar aktif.
Pendengar aktif tidak hanya paham isi pembicaraan pasangan DailyReaders tapi juga memberikan tanggapan. Tanggapan bisa diberikan dengan mengulang isi pembicaraan, mengulang isi pernyataan dengan bahasa sendiri, serta merefleksikan perasaan yang tersirat dalam pernyataan pasangan. Misalnya, saat pulang kerja, pasangan Anda berkata, “Aduh, kacau banget hari ini, semuanya gak ada yang lancar!”. Anda dapat merefleksikan isi dan perasaan pasangan dengan berkata, “Sayang, keliatannya kamu lagi kesel hari ini, seperti ada masalah di pekerjaan kamu”. Tanggapan seperti ini membuat pasangan merasa lebih dihargai. Jangan kaget kalau pasangan DailyReaders menjadi lebih banyak bercerita dan pada akhirnya merasa lega karena punya pasangan yang mendengar aktif.
2. Observasi dampak pernyataan Anda pada pasangan.
Kita seringkali sudah punya prediksi mengenai tanggapan pasangan terhadap perkataan kita. Tetapi prediksi tersebut belum tentu tepat. Alkisah, ada seorang isteri yang pulang dari pekerjaan dengan wajah kesal. Sang suami inisiatif menawarkan bantuannya, “Sayang, kamu cape ya? Sini aku aja yang cuci piring dan siapin makan malam, kamu istirahat aja ya”. Mendengar ini, wajah istri bertambah cemberut. Ternyata si istri sedih karena merasa suami meragukan kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada salahnya DailyReaders menanyakan apa perasaan pasangan sebenarnya. Toh kita bukan cenayang yang bisa baca pikiran bukan?
3. Sisipkan pernyataan cinta di akhir pernyataan Anda.
Masih ingat masa-masa awal pacaran DailyReaders? Saat pernyataan cinta seperti “Aku sayang kamu” atau “Kamu yang terbaik buat aku” bisa DailyReaders dengarkan bertubi-tubi dari pasangan. Masih ingat bagaimana hati DailyReaders berbunga-bunga mendengar kata-kata tersebut? Mungkin setelah menikah, kata-kata ini menjadi berkurang. Ada baiknya DailyReaders mencoba ‘menggalakkan’ kembali kata-kata ini dalam berkomunikasi dengan pasangan. Silakan bereksplorasi dan temukan cara spesial DailyReaders mengatakan pernyataan cinta pada pasangan. Siap-siap merasa berbunga-bunga dan melihat pipi pasangan bersemu kemerahan.
Tips-tips di atas hanyalah sebagian kecil dari banyak cara untuk meningkatkan komunikasi dengan pasangan. Selain itu juga masih banyak cara untuk meningkatkan faktor-faktor pendukung kesuksesan pernikahan lain yang disebutkan diatas. Jika berminat, DailyReaders dapat mencari informasi dari buku self-help atau mengikuti seminar/workshop tentang cara-cara menuju pernikahan yang sukses. Agar tips-tips tersebut dapat efektif dalam prakteknya, ingat kembali bagaimana Dailyreaders mencintai pasangan Anda sama seperti ia mencintai Anda. Ingat pula bahwa Anda berdua ingin yang terbaik untuk pernikahan Anda, karena itu tidak usah menunggu perubahan dari pasangan, melainkan mulailah untuk berubah.
Ingin “live happily ever after” bersama pasangan dalam pernikahan Anda? Bukan tidak mungkin, hanya perlu usaha lebih dibandingkan Sang Pangeran dan Sang Putri. Selamat mencoba dan selamat menikmati pernikahan Anda! 
*sumber ada pada penulis
Pingkan C. B. Rumondor, perempuan, 25 tahun, single, baru saja menuntaskan pendidikan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa di Universitas Indonesia. Perempuan muda ini bercita-cita mempunyai klinik yang khusus menangani mengenai hubungan intim, pernikahan dan keluarga dengan perspektif psikologi positif. Itulah sebabnya ia memilih topik penyesuaian pernikahan pada pasangan yang baru menikah untuk tesisnya (disamping menjawab kekhawatiran pribadi tentang pernikahan ;) ). Sebagai psikolog yang masih hijau, saat ini ia bekerja freelance di beberapa tempat.
Kegiatan yang paling disukai ialah mengobrol dengan teman, membaca, dan menonton film. Jika ingin bertanya lebih lanjut mengenai artikel ini (atau mungkin butuh bantuan psikolog ;) ), bisa menghubungi: pingkan_cbr@gmail.com