Psychology Words of the day
"I" Message
Suatu pernyataan yang menggambarkan perasaan yang kita rasakan dan bagaimana perilaku seseorang mempengaruhi perasaan kita. Pada dasarnya, pesan ini merupakan salah satu cara yang membuat orang lain mau mendengarkan dan kooperatif. Pernyataan semacam ini adalah salah satu cara yang tidak judmental (menghakimi) dalam mengkomunikasikan perasaan dan pendapat secara lebih efektif.
MOS Asyik Tanpa Bullying!
DailyReaders tentu ingat dengan penggalan teks lagu “Nostalgia SMA Kita” yang sempat dipopulerkan oleh Paramitha Rusady. Lagu tersebut mengingatkan kita semua pada sebuah ungkapan lama, yakni ”masa SMA adalah masa-masa paling indah”. Masa dimana seseorang mengalami banyak pengalaman baru, masa remaja, belajar untuk memegang tanggung jawab, dan tentu saja, masa yang penuh cinta.
Masa-masa indah ini salah satunya didapatkan dari kegiatan sekolah yang cukup berperan penting, yakni Masa Orientasi Siswa (MOS). Dalam kegiatan ini, para siswa baru diberi kesempatan untuk memiliki masa orientasi (pembiasaan) dan memulai langkah awal untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru bagi mereka. Dengan mengikuti MOS, seorang siswa baru dapat mengetahui nilai-nilai apa saja yang dianut di lingkungan barunya, termasuk tata tertib, untuk kemudian diimplementasikan dalam bentuk tingkah laku sehari-hari.
Untuk dapat mencapai tujuan MOS dan proses adaptasi yang baik, tentu ada peranan orang lain untuk membimbing para siswa baru. Salah satunya adalah kakak kelas. Proses adaptasi dapat berlangsung baik apabila siswa-siswa baru mempersepsikan tingkah laku dan sikap kakak kelas terhadap mereka cukup baik. Jika hal yang sebaliknya terjadi—tingkah laku dan sikap kakak-kakak kelas dipersepsikan kurang baik, bahkan menjurus ke bullying—jelas, masa SMA yang dialami para siswa baru bukan masa-masa indah. Sayangnya, masih menjadi rahasia umum bahwa sekolah-sekolah menengah pertama dan atas di Indonesia masih memiliki MOS yang diwarnai oleh perilaku bullying yang dilakukan oleh kakak kelas pada adik kelasnya. Untuk menghindari dampak buruk dari bullying, tentu kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan bullying tersebut.
Apa itu Bullying?
Terdapat fakta unik tentang bullying yang terjadi di lingkungan sekolah, yakni ternyata masih banyak siswa sekolah yang tidak memahami pengetian dan dampak bullying. Pada akhirnya, banyak siswa yang tidak menyadari bila dirinya sedang menjadi pelaku, saksi, atau bahkan korban bullying. Ironis memang.
Bullying dapat didefinisikan sebagai perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri. Sedangkan, dalam konteks lingkungan sekolah (school bullying), bullying diartikansebagaisebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Ada 5 kategori perilaku bullying tersebut, yaitu :
1. Kontak Fisik Langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain
2. Kontak Verbal Langsung
Mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip masuk dalam kategori ini.
3. Perilaku non-verbal langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal.
4. Perilaku non-verbal tidak langsung
Contoh nyata dari kategori perilaku ini adalah mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, dan mengirimkan surat kaleng.
5. Pelecehan seksual
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah perilaku-perilaku yang dapat pula dikategorikan sebagai perilaku agresi fisik dan verbal.
Mengapa seorang siswa dapat melakukan perilaku bullying terhadap siswa lain, yang seharusnya dapat menjadi teman sepermainan mereka? Hal tersebut dapat dipahami dengan skema kognitif korban. Menurut skema tersebut, korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena tradisi, balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (korban laki-laki), ingin menunjukkan kekuasaan, marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, mendapatkan kepuasan, dan iri hati. Dua hal terakhir dari yang dijabarkan merupakan penuturan korban perempuan. Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena penampilan yang menyolok, tidak berperilaku dengan sesuai, perilaku dianggap tidak sopan, dan tradisi.
Bullying merupakan sebuah tindakan yang berbahaya baik secara fisik maupun psikologis. Disamping luka yang mungkin dihasilkan, trauma juga dapat terjadi bagi para korban bullying. Sayangnya, “doktrin” para senior ke juniornya bahwa bullying dalam MOS merupakan budaya yang tersebar di kalangan murid membuat perilaku ini terus terjadi tiap tahunnya. Bullying mungkin merupakan bentuk agresivitas antarsiswa yang memiliki akibat paling negatif bagi korbannya. Hal tersebut terjadi karena dalam peristiwa bullying terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka.
Dampak
Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban bullying akan cenderung mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah (low psychological well-being), penyesuaian sosial yang buruk, gangguan psikologis, dan kesehatan yang memburuk. Korban bullying juga bisa mengalami penyesuaian sosial yang buruk sehingga ia terlihat seperti membenci lingkungan sosialnya, enggan ke sekolah, selalu merasa kesepian, dan sering membolos sekolah. Apabila kita melihat lebih jauh lagi, gangguan psikologis rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder) dapat timbul pada korban bullying.
Terganggunya kesehatan fisik juga disebutkan sebagai salah satu dampak dari bullying. Contoh yang biasa terjadi adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bagi para korban bullying yang mengalami perilaku agresif langsung mungkin akan mengalami luka-luka pada fisik mereka.
Mencegah Dampak Buruk Bullying
Setelah membaca pemaparan tentang bullying, jelas tidak ada manfaat sedikitpun dari bullying. Walaupun kerap terjadi di lingkungan sekolah, ada hal yang dapat dilakukan seorang siswa untuk menghapus perilaku tersebut. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan tidak menjadi seorang pelaku. Rasa empati (kemampuan yang tinggi untuk mengalami dan memahami emosi orang lain ) kita terhadap orang lain juga perlu ditingkatkan. Cobalah untuk merasakan emosi yang mungkin dirasakan oleh seseorang yang menjadi korban bullying, dan kemudian bayangkan apabila diri kita sendiri yang menjadi korban bullying. Jelas tidak menyenangkan, bukan?
Peran selanjutnya yang dapat dilakukan adalah menyebarkan informasi mengenai pengertian dan dampak negatif dari bullying kepada orang lain, khususnya sesama siswa sekolah. Hal ini dapat kita lakukan misalnya dengan menjadi penggagas sekaligus pelaksana Masa Orientasi Sekolah dengan tema MOS TANPA BULLYING. Pada kegiatan MOS tanpa bullying, acara dapat dikemas dengan berbagai kegiatan-kegiatan yang mengasyikan, menarik, dan tentu saja bebas dari perilaku bullying. Kegiatan-kegiatan MOS tahun sebelumnya yang kurang bermanfaat dan menjurus kepada perilaku bullying jelas harus dihilangkan.
Kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dan melibatkan interaksi antara siswa baru dengan siswa lama perlu diadakan lebih banyak. Dengan demikian, suatu lingkungan yang menyenangkan dan kondusif untuk belajar akan semakin cepat dan mudah terbentuk. Selalu ingat dalam pikiran masing-masing, bahwa siswa baru adalah seorang teman yang membutuhkan bimbingan. Bukan suatu objek yang dapat kita perlakukan semau kita. Apabila hal ini dapat terlaksana, niscaya semua siswa akan mengenang masa sekolah mereka sebagai masa-masa yang paling indah, tanpa bullying. Setuju?
*sumber ada pada penulis
Response This Post
Terdapat kesalahan dalam pengisian form komentar, untuk lebih jelas lihat di bawah.

