Sepakbola dan Kepimpinan
Sejak 11 Juni kemarin, ajang olahraga terbesar di dunia selain Olimpiade sudah dimulai. Piala Dunia yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di benua Afrika selalu menyimpan daya tarik tersendiri sejak pertama kali diadakan pada tahun 1930. Di ajang ini, talenta terbaik sepakbola dari seluruh dunia berkumpul untung bertanding demi kehormatan negara dan bangsa. Sayang, tim Merah Putih belum dapat tampil pada edisi Piala Dunia 2010 ini.
Sepakbola adalah selalu tentang tim. Individu terbaik di muka bumi pun tidak akan bisa memenangi sebuah pertandingan tanpa ada support dari rekan satu timnya. Namun, dalam suatu tim, baik sepakbola maupun tim kerja di sebuah organisasi, tetap diperlukan adanya seorang pemimpin untuk memberikan arahan, dukungan, dan menyatukan anggota tim.
Sepakbola yang sering dianggap analogi terbaik dari suatu teamwork dalam konteks dunia kerja, pun menempatkan posisi kapten tim sebagai posisi yang krusial. Pada Piala Dunia kali ini, beberapa tim akan bermain tanpa kapten mereka selama ini. Jerman akan bermain tanpa Michael Ballack; Inggris yang mengandalkan kepemimpinan Rio Ferdinand, harus rela ditinggalkan sang kapten karena cidera. Beruntung mereka masih memiliki Steven Gerrard dan Frank Lampard yang kali ini dipercaya sebagai kapten dan wakil kapten. Yang teranyar, warga Pantai Gading masih menunggu kabar apakah kapten pujaan mereka, Didier Drogba, bisa bermain di pertandingan awal Piala Dunia kali ini atau tidak. Gambaran singkat di atas dapat menjelaskan betapa pentingnya peran seorang pemimpin dalam suatu tim.
Bagaimana dengan kepemimpinan dalam dunia kerja? Siapakah sosok yang dianggap pemimpin dalam tempat kerja kita? Apakah selalu atasan kita? Atau hanya mereka yang duduk sebagai direksi? Seringkali kita mendengar ada istilah “pemimpin formal” dan “pemimpin tidak formal”. Pemimpin formal adalah mereka yang ada dalam struktur organisasi dan ditunjuk untuk memegang suatu jabatan, seperti manajer, kepala divisi, general manager, termasuk board of director. Sementara pemimpin tidak formal sering dianggap mereka yang tidak memiliki jabatan resmi dalam organisasi, tapi terbukti memiliki pengaruh yang cukup kuat bagi orang-orang di sekitarnya.
Sebelum bicara lebih lanjut mengenai siapa pemimpin dalam tempat kerja kita, mari kita bertanya lebih dulu, kenapa perlu ada pemimpin dalam suatu organisasi?
Seorang pemimpin dibutuhkan dalam suatu organisasi karena ada tanggung jawab yang sangat besar untuk dikerjakan sendiri dan oleh karena itu, dibutuhkan juga beberapa orang lain untuk membantu pemimpin tersebut dalam menyelesaikan tanggung jawab yang sangat besar itu. Seorang pemimpin akan bekerja dengan dan melalui orang lain untuk menyelesaikan masalah yang ada sehingga sebenarnya, kinerja seorang pemimpin akan tergantung pada kinerja pekerjanya dan demikian berlaku sebaliknya. Jadi, pemimpin dan pekerja adalah satu kesatuan dalam suatu organisasi.
Dalam kondisi seperti itu, maka salah satu fungsi pemimpin dalam suatu organisasi adalah mengatur dan mengelola disiplin kerja bagi para pekerjanya. Saat ini, salah satu konsep kepemimpinan yang sedang berkembang dan dijalankan oleh banyak perusahaan adalah Situational Leadership. Konsep kepemimpinan ini muncul karena disadari saat ini tidak ada satu tipe kepemimpinan yang tepat untuk berbagai situasi.
Situational leadership merupakan kombinasi antara autocratic leadership dan democratic leadership sehingga peran kepemimpinan dapat disesuaikan dengan siapa orang yang dipimpin dan dalam konteks situasi apa. Dalam konsep ini, ada 4 macam prinsip kepemimpinan, yaitu :
1. Directing : pemimpin memberikan instruksi yang spesifik dan mengawasai penyelesaian tugas dari dekat. Prinsip ini lebih tepat dilakukan pada pekerja baru, terutama yang berasal dari fresh graduate, yang dianggap memiliki motivasi tinggi tetapi masih terbatas knowledge dan skill-nya.
2. Coaching : pemimpin memberikan pengarahan dan mengawasi penyelesaian tugas dari dekat sambil memberikan saran dan dukungan. Prinsip ini berlaku bagi pekerja yang sudah memiliki cukup experience dan skill namun tidak memiliki motivasi yang tinggi untuk bekerja lebih baik.
3. Supporting : pemimpin memberikan dukungan untuk penyelesaian tugas dan berbagi tanggung jawab untuk mengambil keputusan. Prinsip ini akan tepat diberikan kepada pekerja yang memiliki cukup experience, knowledge, dan skill tapi tingkat motivasinya mulai menurun sehingga perlu secara intens diberikan dukungan.
4. Delegating : pemimpin menyerahkan tanggung jawab untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah kepada bawahannya. Prinsip ini dijalankan jika pemimpin memiliki pekerja yang memiliki knowledge, skill, dan motivasi yang tinggi sehingga pemimpin hanya memberikan perlu tugas dan target dan biarkan pekerja tersebut menyelesaikannya.
Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa situational leadership adalah konsep kepemimpinan yang lebih menekankan kepada ”apa yang pemimpin lakukan DENGAN orang lain” dan bukan ”apa yang pemimpin lakukan UNTUK orang lain”. Oleh karena itu, pada akhirnya seorang pemimpin diharapkan dapat lebih banyak melakukan delegating kepada para pekerjanya sehingga tercipta regenerasi kepemimpinan, knowledge, dan skill.
*sumber ada pada penulis