Suporter: Bersatu untuk Maju
Anda pencinta bola? Jujur, saya bukan. Namun beberapa kali ikut menonton acara nonton bola bersama hanya sebagai bentuk solidaritas menemani pasangan. Dari pengalaman saya (yang hanya beberapa kali itu) dan melihat pemberitaan di media massa tentang perilaku kekerasan yang ditampilkan para pendukung bola, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala antara heran tapi juga takjub.
Kita lihat skala “kecil” dulu, seperti pertandingan antar klub sepak bola yang ada di Indonesia. Ajang pertandingan olah raga, apalagi sepak bola, dimaksudkan untuk silahturahmi dan mengajarkan kita semua tentang kompetisi yang sehat dan sportivitas. Namun, sering sekali (sepertinya setiap saat) saya melihat pemberitaan tentang perkelahian antar pendukung, yang biasanya dipicu oleh kesedihan mereka melihat tim bola kesayangannya kalah.
Kira-kira apa yang akan terjadi bila tim sepak bola Indonesia memiliki kesempatan untuk ikut bertanding di Piala Dunia 2010 ini? Saya rasa, tidak akan ada peristiwa perkelahian antar pendukung klub bola kota A dengan kota B. Semua orang Indonesia akan bersatu untuk memberikan dukungannya kepada tim bola Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mau cerita sedikit terlebih dahulu tentang pengalaman saya dulu menonton konser Boys2Men di Jakarta. Di tengah-tengah jalannya konser, para personil boyband tersebut mengajak penontonnya bernyanyi bersama mengikuti nada yang mereka nyanyikan. Awalnya, yang diajak adalah seluruh penonton di satu ruangan, diakhiri dengan pujian mereka yang intinya mengatakan “Bagus! Kompak sekali kalian, Indonesian people, dalam bernyanyi bersama.” Mendapat komentar seperti itu, saya dan penonton lainnya langsung berseru “Yeeeaaaahhhhh!!!” sebagai bentuk ekspresi kebanggaan kami sebagai orang Indonesia.
Kemudian, personil boyband tersebut membagi penonton di ruangan menjadi tiga area, dan masing-masing area diberikan nadanya masing-masing. Setelah dicobakan satu-satu, salah satu personil boyband ini berkomentar seperti “Kok yang bagian kiri ga semangat kayak dua bagian lainnya ya?” Reaksi kami mendengar komentar itu? Spontan, bagian kanan dan tengah berteriak “Boooooooo!!!!” kepada bagian kiri. Nah, dimulai dari situ, saat bagian kanan lagi bernyanyi, bagian kiri dan tengah akan menyoraki yang merendahkan. Saat bagian tengah lagi bernyanyi, bagian kanan dan kiri menyoraki pula. Melihat kejadian seperti itu, salah satu personil pun kembali berkomentar yang intinya menanyakan “Ada apa? Ketika kalian bernyanyi bersama bisa kompak. Tapi, sekarang setelah dipecah-pecah, kenapa jadi saling menjatuhkan satu sama lain?”
Ouch! Tertohok hati saya waktu itu, dan semua penonton lainnya karena kami serentak langsung berhenti menyoraki. Kejadian seperti ini lah yang tepatnya terjadi pula pada supporter bola kita. Saat kita semua sedang berjuang untuk mencapai satu tujuan (goal) yang lebih besar, dalam kasus ini kita mendukung Indonesia melawan negara lain, kita bisa langsung melupakan perbedaan-perbedaan yang kita miliki dan dulunya menjadi penyebab permusuhan. Kenapa bisa “lupa”? Karena saat kita sama-sama berjuang untuk hal yang sama, dan lebih besar, disadari atau tidak, kita membutuhkan kerja sama semua orang untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Tim sepak bola Indonesia tidak akan bisa konsentrasi dan bermain dengan baik melawan tim sepak bola negara lain bila melihat pendukungnya malah sibuk saling menjatuhkan. Namun, bila tim Indonesia ini mendapat dukungan penuh, sorak sorai keramaian semua penonton Indonesia, terlepas dari kota mana mereka berasal, semangat dan kebanggaan anggota tim pun akan meningkat dan mendorong mereka untuk bisa bermain dengan baik. Memberikan prestasi baru kepada seluruh Indonesia yang bisa dibanggakan.
Persatuan dan kerja sama untuk mencapai satu tujuan (goal) yang lebih besar ini dapat diaplikasikan dalam keseharian kita, tidak hanya dalam urusan persepakbolaan. Di sekolah misalnya, ada permusuhan dengan teman sekelas yang membuat kita jadi sering cela-mencela antar satu sama lain. Ketika dihadapkan dengan guru yang galak dan memberikan banyak tugas, satu kelas bisa bersatu untuk “demonstrasi” membela diri dari guru tersebut. Jadi, kalau sekarang kita bermusuhan dengan kelompok lain, coba tanyakan pada diri masing-masing, Tujuan apa yang ingin kita capai, yang lebih besar dari tujuan kita sekarang, sehingga bisa membuat dua kelompok berbeda ini menjadi satu kelompok yang sama?
Nadya Pramesrani, seorang perempuan berusia 24 tahun yang saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Profesi di Fakultas Psikologi UI, berharap bisa lulus dalam waktu sebulan lagi. Sebelumnya, perempuan ini juga lulus sebagai Sarjana Psikologi dari universitas yang sama pada tahun 2007. Dalam psikologi, Nadya ini tertarik dalam bidang seksualitas dan perilaku seksual manusia. Sebelumnya, ia aktif dalam kegiatan Sex Education kepada kelompok remaja yang akan kembali dilanjutkan setelah berhasil lulus pendidikannya.
Di luar psikologi, hobinya ada di bidang kuliner (penyantap, bukan pembuat) dan interior design. Kalau ada kesempatan, Nadya ini ingin meneruskan impiannya sebagai interior designer yang harus tertunda. Bila sedang stres, her personal disneyland is ikea store dan index.
Contact Nadya: nadya.pramesrani@yahoo.com